: kata orang kurakura lambat
Lambat berpikir dan berjalan
Tak seharusnya sang kurakura datang ke pesta kalian.
Maaf bila [dia] datang ke pesta kalian (Yogya,060110)
Pagi itu ku habiskan dengan menikmati alunan musik yang tak pernah ku rasakan sebelumnya…Begitu indah, begitu merdu, begitu mendamaikan hati yang tak tentu. Pagi itu ku dengar paduan suara dari sekelompok jankrik yang begitu merdu mendendangkan lagu kasih tak sampai, selain itu terdengar pula decitan sekelompok tikus yang kelaparan mencari sepotong roti untuk mengisi kekosongan perutnya, sang jago pun tlah berkokok menandakan kepada tiap insan bahwa hari tlah berganti, kicau burung pun menghanyutkanku pada lamunan akan ku bawa kemana hari ini? Pagi yang tak pernah ku nikmati, karena segala rutinitas yang membebani…akh, aku jadi ragu apakah ini membebaniku atau tidak? Tapi semua itu telah terjadi dari awal hingga ku tutup hari dengan setumpuk rutinitas itu dan semua itu pun terjadi terus hingga usia ku menginjak hampir 23 tahun.
Setelah ku nikmati simfoni pagi ini, ku coba renungi hari kemarin yang baru saja lewat…ya, hari yang melelahkan karena aku disibukkan dengan segala aktivitasku yang sama seperti biasa, kemudian ku tapaki hari yang kemudian mulai menguning dengan guyuran air hujan yang mendamaikan aku, dan ku tutup hari itu. Tapi, ada yang berbeda dan aneh…disaat sudah ku tutup hari ada yang berbisik kepadaku dan mengatakan
“Sudah selesai…”, tersentak ku buka nafasku untuk mencari asal dari bunyi tersebut.
Tak ku dapati bunyi itu, hanya sepucuk surat dengan lembar yang telah usang dimakan waktu. Surat itu menceritakan hal yang telah lalu kurang lebih 6 tahun yang lalu. Ku coba cerna dan memahami maksud surat itu, ku baca berulang kali dan kembali mencoba mengerti apa isi surat itu.
…
….
…..
……
Surat usang itu sebenarnya telah ku simpan dalam lemari besi berukuran 3x2 meter…tapi, mengapa surat itu kembali mengusik malamku. Bukan…bukan mengusik tetapi mungkin angin yang membawanya dan kembali menyadarkan aku akan makna dari surat itu. Akh…mengapa tak ku sadari. Apakah aku tak menganggap surat itu tidak penting? Ataukah aku mempercayai orang yang mengirim atau menuliskan surat itu? Atau aku merasa bahwa surat itu telah termakan usia sehingga aku melupakan makna dibalik surat asing itu? Atau apa???
Mungkin…hari-hariku ke depan akan sedikit berbeda dari rutinitasku biasanya…tapi, aku sadar bahwa aku saat ini masih diberi nafas kehidupan, berarti aku harus tetap kuat walau orang mengatakan senja tetaplah senja! Ada insan yang menikmatinya…adapula yang mencampakkannya/melupakannya! Atau bahkan insan lain mengatakan bahwa senja tak mungkin menjadi fajar, karena senja hanya hadir untuk menutup hari atau berada diakhir hari…
Yah, ku coba jalani hidupku sebagai senja…sampai kapan pun aku tetaplah S.E.N.J.A yang tak pernah pancarkan kesejukkan, karena kesejukkan hanya milik sang fajar... Kisah ini belum usai...tapi mengapa mata penaku terhenti? Tak pernah ku rasakan hal ini. Akankah mata pena ini tak mampu lagi bergerak dan menggambarkan sesuatu yang indah? Ataukah mata pena ini telah kehilangan keruncingannya? Berarti kehidupanku selesai di pagi ini. Karena aku tak tahu apa yang harus aku lakukan hari ini...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar