Kini sang angin pun kembali menerpa
rapuhnya senja.
kerapuhannya terukir jelas dalam
kanvas hari ini.
Bias sang senja pun terlihat
tak mampu terangi semua.
Inilah senja dengan keterbatasan[:nya]
Maaf bila pancaran senja tak seindah dulu
Senja 'kan tetap ada sampai waktu
mengambilnya dan digantikan
oleh sang pembuat cerita.
Kamis, 28 Agustus 2014
Kini sang angin pun kembali menerpa
rapuhnya senja.
kerapuhannya terukir jelas dalam
kanvas hari ini.
Bias sang senja pun terlihat
tak mampu terangi semua.
Inilah senja dengan keterbatasan[:nya]
Maaf bila pancaran senja tak seindah dulu
Senja 'kan tetap ada sampai waktu
mengambilnya dan digantikan
oleh sang pembuat cerita.
Jumat, 06 Juni 2014
Kemunafikan
Tiap orang memiliki dua sisi ketulusan dan kemunafikan. Terkadang ketulusan ditindas oleh kemunafikan dan menjadikan kita menjadi manusia yang munafik. Tidak dapat dipungkiri kita bahkan gw sebagai penulis pun memiliki dua hal itu untuk mencapai sebuah tujuan. Ketulusan saat ini amat jarang kita temui di jaman sekarang ini, entah mengapa hal itu tidak pernah lagi ada. Kalau pun masih ada itu bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami atau 1 : 10000 orang. Gw ga akan membahas keduanya secara lebih mendetail. Tapi pahamilah bahwa kedua hal ini ada dan nyata dalam dunia saat ini. Satu pertanyaan yang muncul dalam benak gw adalah...kalau kita dikondisi tulus membantu orang tapi kita di khianati oleh orang itu, apakah kita akan memaafkannya?ataukah kita akan memaafkannya?
Dunia ini adalah panggung sandiwara guys..siapa yang kuat karakternya maka dia yang menjadi tokoh dalam sandiwara itu...selamat berperan.
Dunia ini adalah panggung sandiwara guys..siapa yang kuat karakternya maka dia yang menjadi tokoh dalam sandiwara itu...selamat berperan.
Kata Terakhir
Aku ingat pengalaman pertamaku saat aku langkahkan kaki ini memasuki sebuah ruangan. dalam ruangan itu, ku temui wajah-wajah polos yang masih haus akan ilmu, wajah-wajah yang memiliki masa depan yang cemerlang, wajah-wajah yang penuh dengan kenakalan-kenakalan dunia remaja. Ada keraguan dalam jiwa, apakah aku mampu mengantarmu pada sebuah asa yang telah kau rancang, dan kau sebut asa itu sebuah KEBERHASILAN. Tiap hari dan tiap detik aku mencoba memahami mau dan maksud semua tutur kata dan tindakan kalian. Kenakalan, canda tawa, celetuk dan keheninganmu saat kau kurang memahami apa yang ku beri ku tangkap jelas dari sini...dari tempat di mana aku berdiri saat ini.
Bahkan terkadang kalian salah mengartikan akan apa yang ku lakukan. Pribadi-pribadi yang memiliki keinginan untuk dimengerti dan dipahami. Dan, selama 1 tahun aku terus mencoba menikmati hari bersamamu. Pelajaran ini tak akan ku lupa, teman...Pelajaran yang tak 'kan ku dapat di bangku pendidikan. Pelajaran kali ini makin membuatku mengetahui bahwa masing-masing dari kalian adalah pribadi yang unik dan berbeda satu dengan yang lain.
Maaf jika aku membuatmu letih dengan semua tuntutan yang ku beri, maaf jika aku membuatmu kesal/menangis akan semua perkataan dan tindakanku, maaf ketika semua penjelasanku tidak dapat kau terima. Semua ku lakukan demi masa depanmu. Kini sang waktu telah memanggilku 'tuk mengakhiri semua kebersamaan kita.
Terima kasih atas kebersamaan kita dan setiap lelah atau bahkan air mata ini. Aku hanya dapat menggantungkan asa, suatu saat nanti kulihat wajah-wajah ini menghiasi layar televisi atau majalah-majalah karena kesuksesanmu, dan kita akan berpelukan serta menghabiskan sisa senja pertemuan kita di sana.
Sekali lagi terima kasih dan maaf atas semua dan kini biarlah aku untuk boleh menghapus jejak langkah kebersamaan kita selama 1 tahun kemarin. Terima Kasih dan Maaf SAHABAT...dan selamat merajut asamu sendiri dengan semua kemunafikaan yang ada di sekitarmu.
Bahkan terkadang kalian salah mengartikan akan apa yang ku lakukan. Pribadi-pribadi yang memiliki keinginan untuk dimengerti dan dipahami. Dan, selama 1 tahun aku terus mencoba menikmati hari bersamamu. Pelajaran ini tak akan ku lupa, teman...Pelajaran yang tak 'kan ku dapat di bangku pendidikan. Pelajaran kali ini makin membuatku mengetahui bahwa masing-masing dari kalian adalah pribadi yang unik dan berbeda satu dengan yang lain.
Maaf jika aku membuatmu letih dengan semua tuntutan yang ku beri, maaf jika aku membuatmu kesal/menangis akan semua perkataan dan tindakanku, maaf ketika semua penjelasanku tidak dapat kau terima. Semua ku lakukan demi masa depanmu. Kini sang waktu telah memanggilku 'tuk mengakhiri semua kebersamaan kita.
Terima kasih atas kebersamaan kita dan setiap lelah atau bahkan air mata ini. Aku hanya dapat menggantungkan asa, suatu saat nanti kulihat wajah-wajah ini menghiasi layar televisi atau majalah-majalah karena kesuksesanmu, dan kita akan berpelukan serta menghabiskan sisa senja pertemuan kita di sana.
Sekali lagi terima kasih dan maaf atas semua dan kini biarlah aku untuk boleh menghapus jejak langkah kebersamaan kita selama 1 tahun kemarin. Terima Kasih dan Maaf SAHABAT...dan selamat merajut asamu sendiri dengan semua kemunafikaan yang ada di sekitarmu.
Rabu, 04 Juni 2014
: Belum selesai
angin kembali tak berdesis
sepi dan dingin terasa
menusuk kulit-
Ku dengar desir angin malam berhembus mengabarkan pesan singkat pada sang senja. Pesan yang teramat singkat dan penuh makna. Mengabarkan berita gembira yang menimbulkan kebencian dalam hati. Senja membaca tiap untaian kata yang tertulis dan tak lama dari itu senja meredup dan menjatuhkan rintik air mata. Guratan senja kini mulai tampak setelah dicampakkannya surat itu. Sayup-sayup namun pasti, senja sadar bahwa ia harus kembali sinari dunia dan ia pun tahu sampai kapanpun senja tak mungkin dapat bersanding dengan mata pena.
Kini senja memutuskan 'tuk beranjak tinggalkan keelokkan karya mata pena. Keelokan yang kini sudah bukan miliknya lagi. Torehan terakhir untuk mata pena adalah sebuah gurat asa bahagia dan untai doa 'tuk mata pena langsung pada sang empunya hidup. Diambilnya kotak asa yang pernah diberikannya dan tergantung beberapa asa bersama dan kini dia lepaskan semua untuk kembali merajut asa baru. Dan raut senja kembali menggurat dan keyakinan dan menatap agung lukisan lain karya sang pencipta jelas terpancar di permadani malam.
sepi dan dingin terasa
menusuk kulit-
Ku dengar desir angin malam berhembus mengabarkan pesan singkat pada sang senja. Pesan yang teramat singkat dan penuh makna. Mengabarkan berita gembira yang menimbulkan kebencian dalam hati. Senja membaca tiap untaian kata yang tertulis dan tak lama dari itu senja meredup dan menjatuhkan rintik air mata. Guratan senja kini mulai tampak setelah dicampakkannya surat itu. Sayup-sayup namun pasti, senja sadar bahwa ia harus kembali sinari dunia dan ia pun tahu sampai kapanpun senja tak mungkin dapat bersanding dengan mata pena.
Kini senja memutuskan 'tuk beranjak tinggalkan keelokkan karya mata pena. Keelokan yang kini sudah bukan miliknya lagi. Torehan terakhir untuk mata pena adalah sebuah gurat asa bahagia dan untai doa 'tuk mata pena langsung pada sang empunya hidup. Diambilnya kotak asa yang pernah diberikannya dan tergantung beberapa asa bersama dan kini dia lepaskan semua untuk kembali merajut asa baru. Dan raut senja kembali menggurat dan keyakinan dan menatap agung lukisan lain karya sang pencipta jelas terpancar di permadani malam.
Selamat malam semua izinkanlah senja pergi dan entah kapan kan kembali ke tempat ini.
Langganan:
Postingan (Atom)