Minggu, 14 Agustus 2011

K.S.S 4

Tak sepatah kata pun datang dari mulut kurakura
Hanya sesal dan sesak di malam yang riuh
[hanya] satu kata dalam benaknya
Kenapa dia harus terlahir sebagai seekor kurakura
(Yogya,060110).

Pagi itu terasa jauh lebih hangat dari biasanya, ku langkahkan kaki ini ke sebuah ruang berukuran 3x4 meter dengan kotak yang penuh dengan ketenangan dan kehangatan disana. Ku basuh badan yang letih karena beberapa hari ini harus ku habiskan waktuku untuk menggoreskan mata penaku dalam kertas itu. Segar, sejuk dan begitu mendamaikan perasaanku yang habis termakan kisah-kisah yang telah ku tulis di lembar-lembar itu. Akh...terasa bebanku hilang dan menjadikanku seorang manusia baru yang siap melakukan aktivitas baruku pagi ini.
Setelah ku habiskan beberapa saat di ruang itu, aku kembali melakukan aktivitas baruku di pagi ini. Pagi ini aku ingin membeli seikat bunga krisan dan bunga tulip untuk ruang kerjaku, selain itu yang terpenting aku harus menyambangi toko pena yang terkenal itu untuk membeli mata pena yang baru untuk menggoreskan warna yang indah untuk senja kemarin. Aku pun kembali ke rumah mungilku yang amat sederhana, sebelum ku langkahkan kaki ini ke meja kerja dan siap untuk melukiskan goresan warna untuk senja ku coba untuk melihat alam dan keheningan yang hampir ku lewati karena ku habiskan waktu di depan meja kerjaku.

Setelah ku habiskan beberapa menit ku habiskan untuk menikmati hari, dengan segelas coklat hangat dan beberapa makanan kecil, ku coba kembali melangkahkan kaki ke tempat yang seharusnya berasa sangat tenang, mungkin karena di sanalah nyawaku kembali terkumpul dari puing-puing hidupku. Hampir 5 jam ku terduduk diam melukiskan senja kemarin. Setelah hampir selesai, aku pun tercengang ku goreskan warna yang berbeda dalam kertas ini, ku baca dan ku benahi beberapa kata yang tak pantas untuk terbaca, dengan ditemani alunan lagu nan indah Harmoni dari grup band kesayanganku. Begitu membuat aku terhanyut membaca kisah seorang senja ini. Kemanakah goresan pena ini akan berakhir?? Tolong wahai siapa saja...buat goresan ini memiliki akhir yang sempurna.

K.S.S 3


Ku kembali pada tempat dimana aku harusnya berada, ku teguk secangkir kopi sebelum ku buka lembar kehidupanku...Ku biarkan mata dan hati ini yang bekerja sehingga dapat menggerakkan tangan yang telah mulai lelah menulis goresan pena yang tak berujung ini, tapi aku sadar bahwa banyak yang menanti akan akhir goresan ini...Fuih...ku coba menarik nafasku dalam dan kembali menorehkan berbagai warna yang indah dalam kertas yang terdapat di atas meja kerjaku. Kali ini aku tidak menceritakan tentang fajar, senja atau hari. Goresan ini, ku persembahkan untuk engkau sang bumi. Aku pun tak tahu mengapa engkau ada dalam kisahku ini. Maaf bila goresan ini tidak sesempurna kehidupanmu yang begitu indah dan berwarna. Tetapi ini niat tulus yang ku persembahkan untuk engkau hai sang bumi. Goresan ini ada karena angin yang menyampaikan bahwa warna, fajar, senja dan bumi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Entah mengapa angin menyampaikannya padaku dikaca jendela kamarku. Tetapi itu semua tersampaikan dengan begitu menyejukkan hati disaat aku harus melukiskan tentang engkau, wahai bumi.
Pagi itu, aku pun mendapat kabar yang membuat cangkir kopiku terlepas dari dekapan tangan mungilku ini. Ternyata sang angin pun menanti kelanjutan dari goresan tinta yang tak berujung ini. Sebenarnya aku pun tak tahu kemana arah dari goresan tinta ini akan berujung. Bahkan orang akan mengatakan bahwa semua alur yang ada dalam goresan ini sangatlah tidak teratur. Tapi, entah mengapa awan, hujan dan angin masih ingin mengikuti arus mata pena ini. Angin pun tidak tahu kemana pena ini akan ku goreskan, bahkan angin berkata,

”Mungkinkah senja akan tergantikan oleh malam? Atau hujan yang akan menjadi kisah berikutnya?”, dia pun kembali berkata pada sang senja,

“Apakah mentari marah terhadap bumi. Ataukah bumi yang terlalu sensitif? Dan saat sang fajar tak lagi menampakkan batang hidungnya akankah hari itu berganti malam sehingga semua keadaan berubah? Atau mungkinkah hujan dapat memberikan kedamaian?”

Begitu banyak desiran dan bisikan angin yang tersampaikan begitu lirih di telinga mungilku. Pagi ini pun, sang Fajar bercerita kepadaku melalui burung camar yang hinggap di depan kaca ruang kerjaku, begitu menariknya hingga rasaku ingin sekali apa yang dia ceritakan terlukis oleh tanganku dan pena kesayanganku, melukis tetang satu hal...melukiskan bumi. Bumi tempat di mana tiap orang dapat menikmati kehidupan, tempat untuk berpijak, tempat yang penuh dengan kesenangan, sampai semua ada di dalam bumi. Setelah ku dengar kicau burung itu, ku kembali ke tempatku semula dan ku tarik diriku kedalam pekatnya tinta pena dan bertarung dengan goresan tintaku itu tentang bumi yang tak dapat terlukiskan dengan baik. Dia mengatakan bahwa fajar ingin pergi dari senja dan hari. Hanya karena satu alasan...B.U.M.I. Mengapa begitu kebetulan? Disaat aku ingin melukiskan tentang bumi, saat itulah fajar berkata bahwa ingin bersatu dengan bumi. Akh...GILA!!! Entah satu kebetulan atau kesengajaan? Bumi...mengapa engkau memiliki medan magnet yang begitu kuat sehingga kita berfikir bahwa tanpa engkau kami tak dapat hidup??
Waktu terus berjalan ketika aku belum mampu melukiskan atau mendeskripsikan tentang bumi. Bahkan penaku ini tak mampu lagi untuk melukiskan apa yang ada dalam pikiranku. Entah mengapa... Tinta dalam penaku pun bersujud agar dia dapat dipakai untuk melukiskan apa yang aku pikirkan. Tapi, entah mengapa tangan ini terasa kaku dan mati rasa sehingga aku tak mampu melukiskan hal ini...begitu kuatkah porosmu sehingga aku tak mampu menguasai medan magnetmu? Atau sebegitu sempurnakah dirimu sehingga aku tak mampu mengambarkan atau paling tidak mendeskripsikan tentang engkau wahai bumi....Izinkan aku melukismu dalam goresan pena ini dengan segala kekuranganku tentang engkau.

****
Tolong jangan salahkan kupukupu cantik itu
Atau bahkan diri [sendiri] bila
pesta itu tak berjalan lancar
Salahkan saja kurakura itu
yang datang tak diundang (Yogya, 160110).

Tak terasa 2 hari ku habiskan untuk melukiskan tentang bumi, aku menyadari bahwa goresanku tentang bumi tidak begitu sempurna layaknya fajar, hari, awan, angin atau bahkan hujan. Kini biarkanlah, aku beristirahat sejenak di teras rumahku menikmati senja yang sungguh sempurna, yah...ku tutup hari ini dengan melihat betapa indah warna yang diberikan oleh senja. Hari ini senja berwarna begitu indah...merah, putih, dan biru entahlah sepertinya ia ingin menunjukkan yang terbaik untuk terakhir kalinya pada hari dan semua makhluk yang ada di bumi ini atau memang itu bias yang begitu indah, yang terpancar karena senja tlah lama tak tampakkan warna keindahannya? Entah naluri seperti apa yang menjadikan aku tergerak untuk kembali ke meja kerjaku dan kembali menggoreskan tinta yang tak pernah terhentikan.
Ku langkahkan kaki ini menuju meja kerjaku setelah ku nikmati senja yang begitu indah. Hatiku yang menuntunku menggerakkan semua dibawah alam bawah sadarku dan rasa letih yang ku alami. Ku goreskan pena itu dan tertulislah demikian. Kali ini aku melukiskan makna lain dibalik senja hari ini, bahwa ternyata senja hadir dengan warna yang berbeda untuk menunjukkan bahwa ia bermuram durja. Akh...ku dengar kabar dari seekor kura-kura yang datang di sudut meja kerjaku, bahwa hari memalu senja dengan hujaman tombak yang menjadikan ia tak dapat berkata-kata. Tombak yang begitu tajam sehingga warna yang ia torehkan itu berwarna begitu menyakitkan dan memilukan. Tombak yang seharusnya dihujamkan pada hari oleh senja, bukan oleh hari kepada senja. Akh....sungguh gila mengapa hari menghujamkan tombak itu kepada senja yang jelas sungguh tak dapat terpisahkan dari hari? Apakah karena senja bersanding dengan hujan atau angin? TIDAKKKK......tolong hentikan hujaman-hujaman tombak yang ditujukan untuk senja. Dia telah hadir tanpa menghitung berapa lama ia keluar, bahkan senja pun harus sadar bahwa ia harus bebagi pada sang fajar, kini mengapa disaat dia keluar ia masih harus mengalami hujaman tombak itu?
Biar bagaimana pun kura-kura itu datang menceritakan padaku bahwa ia tahu seberapa besar senja mencintai hari. Dan ia tak mungkin terlepas oleh hari, karena besarnya rasa yang ia miliki. Tak diperhitungkan berapa lama ia hadir tetapi bagaimana ia dapat memberikan warna yang terindah untuk penutup hari. Mendengar itu pun, aku merasa begitu terhanyut sehingga mata penaku melukiskan apa yang sedang terjadi antara senja dan hari karena begitu semangat ku lukiskan kisah itu mata penaku pun patah tepat ketika hendak ku lukiskan beberapa bait lagi tentang kehidupan senja dan hari. Kura-kura itu pun berpesan padaku

Jika sudah kau dapatkan mata pena yang baru, tolong lukiskan bahwa senja pun tak mungkin bersanding dengan udara ataupun hujan”,

Aku pun berjanji pada kura-kura itu, jika sudah ku dapatkan mata pena yang baru aku akan kembali melukiskan apa yang kura-kura itu pinta. Senja...masih kuatkah kau bertahan untuk pancarkan rona warnamu untuk hari? Bertahanlah hingga esok pagi sampai ku temukan mata pena yang pas untuk menggambarkan betapa mulianya engkau hai senja. Ku lihat senja semakin rapuh oleh hujaman tombak itu... Semakin rapuh dan entah kapan senja akan ungkap bahwa warna yang ia beri adalah yang terbaik untuk hari...Tidak untuk insan lain yang mampu menyanding senja hari ini...baik untuk kura-kura, mendung, bumi atau bahkan hujan sekali pun. Karena, senja tau untuk siapa warna terakhirnya dipersembahkan...hanya untuk H.A.R.I tidak untuk siapapun itu. Senja kabarkanlah bahwa sinarmu hanya untuknya...jangan kau pendam warna dan sakitmu seorang diri.

****

K.S.S 2


Mata penaku berfungsi kembali dan dia kembali menorehkan tinta yang cukup berbeda dari biasanya. Mungkin, warna atau rasa itu sudah ada beberapa dasawarsa, tetapi aku baru menyadarinya saat ini bahwa aku melupakan warna itu. Mungkin sang warna itu terjatuh ketika ku goreskan penaku dengan warna yang lain, sehingga aku lupa bahwa dulu warna itu pernah menorehkan warna di buku kehidupanku. Ku pungut warna itu dari kolong meja tempat ku bekerja. Ku bersihkan warna tinta yang melekat dalam penaku, ku isi separuh dari isi tintaku seharusnya. Ingin ku lihat masih samakah warna itu seperti beberapa dasawarsa lalu...Ku habiskan waktuku dengan tinta ku yang telah lama hilang dengan melukiskan dalam sebuah kertas yang begitu putih dan bersih. Warna yang selama ini...tak pernah menghiasi kertas kehidupanku. Terhanyut oleh hasil goresan pena dari tinta yang telah lama hilang, aku lupa bahwa hari tlah beranjak menguning. Akh, ku coba tilik hari didepan jendelaku...
 
“Ku merasa hari ini senja tak begitu indah seperti biasanya, apakah mungkin karena sang senja harus berbagi pada mendung yang menyelimuti hari?”
 
Tapi, ku lihat sang senja tak menolak kehadiran mendung, mungkin karena dia tahu bahwa hari tak khan pernah dapat lepas dari rutinitas, panas, senja dan mendung hingga hari itu kembali pada titik nol. Sebuah titik di mana hari harus kembali kepada sang pencipta. Ku lihat di matanya keinginan yang tak dapat tersampaikan oleh mendung. Karena, mendung sudah menyelimuti hari dan tak dapat pergi darinya...akankah mendung menumpahkan segala rasanya itu dengan setitik air yang turun darinya? Ataukah rasa itu akan hilang tertelan zaman? Ataukah rasa itu akan tetap ada diantara hari dan mendung? Tetapi ku tunggu hingga mataku menutup hari rasanya semua pertanyaan atau kesimpulan itu tidak terjadi.
Berat...tolong berikan aku nafas kehidupan yang baru dan melepaskan sajak ini sejenak sehingga aku mendapatkan kembali hartaku yang semula. Kini, biarlah malam yang selimuti hari dan senja pun hilang untuk beberapa waktu karena sang senja pun membutuhkan waktu untuk berhenti sebelum ia tutup hari ini dengan berbagai kenyataan, entah disadari atau tidak terkadang senja pun tak hanya memancarkan warna yang biasa tetapi terkadang ia juga memancarkan warna yang berbeda-beda untuk mengekspresikan apa yang ada di mana ia harus berbagi pada sang mendung, menemukan sepucuk surat yang tlah usang, dan menghadapi kenyataan bahwa hari tlah berganti. Kini biarlah tiap insan menikmati senja yang berbeda di atas jembatan kali gendol dengan kekasihnya bercumbu mesra dengan sepotong jagung bakar yang dibelinya di pasar tadi, untuk terakhir kalinya sebelum senja lewat dan berlalu dan tergantikan oleh sang malam.
****

mentari tak pernah marah terhadap bumi
karena mentari amat mencintai bumi.
mungkin bumi yang tak tahu seberapa besar cintanya.
[Angin] pun hanya hadir sebentar
 dalam hidup mereka.

Sang fajar kini tlah bersenandung membuka hari ditengah dinginnya udara yang terasa begitu menusuk tulang belakangku. Dengan kedinginan itu, ku coba buka kedua buah mataku dan merasakan hari ini...Dingin, sunyi, mati dan kaku....Ku langkahkan kakiku pada sebuah ruang berukuran 3x3 meter, dan kembali pada rutinitasku seperti semula. Ku lihat penaku masih berada ditempat sebelum kemarin ku tutup hari dengan rasa lelah yang teramat sangat, kertas berserakan di keramik lantaiku, alat peruncing penaku pun masih bertengger di tempatnya, dan prakarya bintang-bintang yang ku buat 2 tahun yang lalu pun masih berserakkan di lantai keramikku yang semalam terjatuh ketika ku alunkan kaki ini untuk menutup mata. Yah karena aku bukanlah orang yang prefect dalam segala hal termasuk membereskan ruang kerjaku.

“Selamat pagi dunia...selamat pagi fajar, selamat pagi hari”, itulah rutinitas yang selalu ku ucap di pagi hari.

Tunggu...ada hal yang berbeda dan itu tak ku sadari...ku coba melangkahkan kaki ini lebih dalam ke dalam ruang kerjaku, ku tilik meja kerjaku...ketajaman mata penaku sepertinya makin meruncing dari sebelumnya. Sepertinya tadi malam sebelum ku tutup hari ini aku tidak meraut mata penaku dengan alat yang tersimpan disamping pena itu. Tapi mengapa mata penaku bertambah runcing dari sebelumnya...Akh mungkin aku lupa kalau semalam sebelum ku tutup hari, aku merautnya dengan alat peruncing itu. Perasaan dingin itu makin menusuk tubuhku, tubuhku semakin membeku, kain yang mempel di tubuhku ini pun tak mampu menghangatkan tubuhku. Maka, ku langkahkan kakiku untuk membuat teman sejatiku dalam menghabiskan semua waktuku...Secangkir kopi hangat dan sepiring gorengan yang siap menemaniku untuk menghabiskan hari-hari ini....Ku coba menyapa sang fajar yang telah mengucapkan selamat pagi pada tiap insan, ku buka kaca jendela dapurku yang berembun.

Rabu, 10 Agustus 2011

Kisah Seorang Senja [KSS]


: kata orang kurakura lambat
Lambat berpikir dan berjalan
Tak seharusnya sang kurakura datang ke pesta kalian.
Maaf bila [dia] datang ke pesta kalian (Yogya,060110)

Pagi itu ku habiskan dengan menikmati alunan musik yang tak pernah ku rasakan sebelumnya…Begitu indah, begitu merdu, begitu mendamaikan hati yang tak tentu. Pagi itu ku dengar paduan suara dari sekelompok jankrik yang begitu merdu mendendangkan lagu kasih tak sampai, selain itu terdengar pula decitan sekelompok tikus yang kelaparan mencari sepotong roti untuk mengisi kekosongan perutnya, sang jago pun tlah berkokok menandakan kepada tiap insan bahwa hari tlah berganti, kicau burung pun menghanyutkanku pada lamunan akan ku bawa kemana hari ini? Pagi yang tak pernah ku nikmati, karena segala rutinitas yang membebani…akh, aku jadi ragu apakah ini membebaniku atau tidak? Tapi semua itu telah terjadi dari awal hingga ku tutup hari dengan setumpuk rutinitas itu dan semua itu pun terjadi terus hingga usia ku menginjak hampir 23 tahun.
Setelah ku nikmati simfoni pagi ini, ku coba renungi hari kemarin yang baru saja lewat…ya, hari yang melelahkan karena aku disibukkan dengan segala aktivitasku yang sama seperti biasa, kemudian ku tapaki hari yang kemudian mulai menguning dengan guyuran air hujan yang mendamaikan aku, dan ku tutup hari itu. Tapi, ada yang berbeda dan aneh…disaat sudah ku tutup hari ada yang berbisik kepadaku dan mengatakan

Sudah selesai…”, tersentak ku buka nafasku untuk mencari asal dari bunyi tersebut.

Tak ku dapati bunyi itu, hanya sepucuk surat dengan lembar yang telah usang dimakan waktu. Surat itu menceritakan hal yang telah lalu kurang lebih 6 tahun yang lalu. Ku coba cerna dan memahami maksud surat itu, ku baca berulang kali dan kembali mencoba mengerti apa isi surat itu.
….
…..
……

Surat usang itu sebenarnya telah ku simpan dalam lemari besi berukuran 3x2 meter…tapi, mengapa surat itu kembali mengusik malamku. Bukan…bukan mengusik tetapi mungkin angin yang membawanya dan kembali menyadarkan aku akan makna dari surat itu. Akh…mengapa tak ku sadari. Apakah aku tak menganggap surat itu tidak penting? Ataukah aku mempercayai orang yang mengirim atau menuliskan surat itu? Atau aku merasa bahwa surat itu telah termakan usia sehingga aku melupakan makna dibalik surat asing itu? Atau apa???
Mungkin…hari-hariku ke depan akan sedikit berbeda dari rutinitasku biasanya…tapi, aku sadar bahwa aku saat ini masih diberi nafas kehidupan, berarti aku harus tetap kuat walau orang mengatakan senja tetaplah senja! Ada insan yang menikmatinya…adapula yang mencampakkannya/melupakannya! Atau bahkan insan lain mengatakan bahwa senja tak mungkin menjadi fajar, karena senja hanya hadir untuk menutup hari atau berada diakhir hari…
Yah, ku coba jalani hidupku sebagai senja…sampai kapan pun aku tetaplah S.E.N.J.A yang tak pernah pancarkan kesejukkan, karena kesejukkan hanya milik sang fajar... Kisah ini belum usai...tapi mengapa mata penaku terhenti? Tak pernah ku rasakan hal ini. Akankah mata pena ini tak mampu lagi bergerak dan menggambarkan sesuatu yang indah? Ataukah mata pena ini telah kehilangan keruncingannya? Berarti kehidupanku selesai di pagi ini. Karena aku tak tahu apa yang harus aku lakukan hari ini...