Mata penaku berfungsi kembali dan dia kembali menorehkan tinta yang cukup berbeda dari biasanya. Mungkin, warna atau rasa itu sudah ada beberapa dasawarsa, tetapi aku baru menyadarinya saat ini bahwa aku melupakan warna itu. Mungkin sang warna itu terjatuh ketika ku goreskan penaku dengan warna yang lain, sehingga aku lupa bahwa dulu warna itu pernah menorehkan warna di buku kehidupanku. Ku pungut warna itu dari kolong meja tempat ku bekerja. Ku bersihkan warna tinta yang melekat dalam penaku, ku isi separuh dari isi tintaku seharusnya. Ingin ku lihat masih samakah warna itu seperti beberapa dasawarsa lalu...Ku habiskan waktuku dengan tinta ku yang telah lama hilang dengan melukiskan dalam sebuah kertas yang begitu putih dan bersih. Warna yang selama ini...tak pernah menghiasi kertas kehidupanku. Terhanyut oleh hasil goresan pena dari tinta yang telah lama hilang, aku lupa bahwa hari tlah beranjak menguning. Akh, ku coba tilik hari didepan jendelaku...
“Ku merasa hari ini senja tak begitu indah seperti biasanya, apakah mungkin karena sang senja harus berbagi pada mendung yang menyelimuti hari?”
Tapi, ku lihat sang senja tak menolak kehadiran mendung, mungkin karena dia tahu bahwa hari tak khan pernah dapat lepas dari rutinitas, panas, senja dan mendung hingga hari itu kembali pada titik nol. Sebuah titik di mana hari harus kembali kepada sang pencipta. Ku lihat di matanya keinginan yang tak dapat tersampaikan oleh mendung. Karena, mendung sudah menyelimuti hari dan tak dapat pergi darinya...akankah mendung menumpahkan segala rasanya itu dengan setitik air yang turun darinya? Ataukah rasa itu akan hilang tertelan zaman? Ataukah rasa itu akan tetap ada diantara hari dan mendung? Tetapi ku tunggu hingga mataku menutup hari rasanya semua pertanyaan atau kesimpulan itu tidak terjadi.
“Ku merasa hari ini senja tak begitu indah seperti biasanya, apakah mungkin karena sang senja harus berbagi pada mendung yang menyelimuti hari?”
Tapi, ku lihat sang senja tak menolak kehadiran mendung, mungkin karena dia tahu bahwa hari tak khan pernah dapat lepas dari rutinitas, panas, senja dan mendung hingga hari itu kembali pada titik nol. Sebuah titik di mana hari harus kembali kepada sang pencipta. Ku lihat di matanya keinginan yang tak dapat tersampaikan oleh mendung. Karena, mendung sudah menyelimuti hari dan tak dapat pergi darinya...akankah mendung menumpahkan segala rasanya itu dengan setitik air yang turun darinya? Ataukah rasa itu akan hilang tertelan zaman? Ataukah rasa itu akan tetap ada diantara hari dan mendung? Tetapi ku tunggu hingga mataku menutup hari rasanya semua pertanyaan atau kesimpulan itu tidak terjadi.
Berat...tolong berikan aku nafas kehidupan yang baru dan melepaskan sajak ini sejenak sehingga aku mendapatkan kembali hartaku yang semula. Kini, biarlah malam yang selimuti hari dan senja pun hilang untuk beberapa waktu karena sang senja pun membutuhkan waktu untuk berhenti sebelum ia tutup hari ini dengan berbagai kenyataan, entah disadari atau tidak terkadang senja pun tak hanya memancarkan warna yang biasa tetapi terkadang ia juga memancarkan warna yang berbeda-beda untuk mengekspresikan apa yang ada di mana ia harus berbagi pada sang mendung, menemukan sepucuk surat yang tlah usang, dan menghadapi kenyataan bahwa hari tlah berganti. Kini biarlah tiap insan menikmati senja yang berbeda di atas jembatan kali gendol dengan kekasihnya bercumbu mesra dengan sepotong jagung bakar yang dibelinya di pasar tadi, untuk terakhir kalinya sebelum senja lewat dan berlalu dan tergantikan oleh sang malam.
****
mentari tak pernah marah terhadap bumi
karena mentari amat mencintai bumi.
mungkin bumi yang tak tahu seberapa besar cintanya.
[Angin] pun hanya hadir sebentar
dalam hidup mereka.
Sang fajar kini tlah bersenandung membuka hari ditengah dinginnya udara yang terasa begitu menusuk tulang belakangku. Dengan kedinginan itu, ku coba buka kedua buah mataku dan merasakan hari ini...Dingin, sunyi, mati dan kaku....Ku langkahkan kakiku pada sebuah ruang berukuran 3x3 meter, dan kembali pada rutinitasku seperti semula. Ku lihat penaku masih berada ditempat sebelum kemarin ku tutup hari dengan rasa lelah yang teramat sangat, kertas berserakan di keramik lantaiku, alat peruncing penaku pun masih bertengger di tempatnya, dan prakarya bintang-bintang yang ku buat 2 tahun yang lalu pun masih berserakkan di lantai keramikku yang semalam terjatuh ketika ku alunkan kaki ini untuk menutup mata. Yah karena aku bukanlah orang yang prefect dalam segala hal termasuk membereskan ruang kerjaku.
“Selamat pagi dunia...selamat pagi fajar, selamat pagi hari”, itulah rutinitas yang selalu ku ucap di pagi hari.
Tunggu...ada hal yang berbeda dan itu tak ku sadari...ku coba melangkahkan kaki ini lebih dalam ke dalam ruang kerjaku, ku tilik meja kerjaku...ketajaman mata penaku sepertinya makin meruncing dari sebelumnya. Sepertinya tadi malam sebelum ku tutup hari ini aku tidak meraut mata penaku dengan alat yang tersimpan disamping pena itu. Tapi mengapa mata penaku bertambah runcing dari sebelumnya...Akh mungkin aku lupa kalau semalam sebelum ku tutup hari, aku merautnya dengan alat peruncing itu. Perasaan dingin itu makin menusuk tubuhku, tubuhku semakin membeku, kain yang mempel di tubuhku ini pun tak mampu menghangatkan tubuhku. Maka, ku langkahkan kakiku untuk membuat teman sejatiku dalam menghabiskan semua waktuku...Secangkir kopi hangat dan sepiring gorengan yang siap menemaniku untuk menghabiskan hari-hari ini....Ku coba menyapa sang fajar yang telah mengucapkan selamat pagi pada tiap insan, ku buka kaca jendela dapurku yang berembun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar