Ku kembali pada tempat dimana aku harusnya berada, ku teguk secangkir kopi sebelum ku buka lembar kehidupanku...Ku biarkan mata dan hati ini yang bekerja sehingga dapat menggerakkan tangan yang telah mulai lelah menulis goresan pena yang tak berujung ini, tapi aku sadar bahwa banyak yang menanti akan akhir goresan ini...Fuih...ku coba menarik nafasku dalam dan kembali menorehkan berbagai warna yang indah dalam kertas yang terdapat di atas meja kerjaku. Kali ini aku tidak menceritakan tentang fajar, senja atau hari. Goresan ini, ku persembahkan untuk engkau sang bumi. Aku pun tak tahu mengapa engkau ada dalam kisahku ini. Maaf bila goresan ini tidak sesempurna kehidupanmu yang begitu indah dan berwarna. Tetapi ini niat tulus yang ku persembahkan untuk engkau hai sang bumi. Goresan ini ada karena angin yang menyampaikan bahwa warna, fajar, senja dan bumi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Entah mengapa angin menyampaikannya padaku dikaca jendela kamarku. Tetapi itu semua tersampaikan dengan begitu menyejukkan hati disaat aku harus melukiskan tentang engkau, wahai bumi.
Pagi itu, aku pun mendapat kabar yang membuat cangkir kopiku terlepas dari dekapan tangan mungilku ini. Ternyata sang angin pun menanti kelanjutan dari goresan tinta yang tak berujung ini. Sebenarnya aku pun tak tahu kemana arah dari goresan tinta ini akan berujung. Bahkan orang akan mengatakan bahwa semua alur yang ada dalam goresan ini sangatlah tidak teratur. Tapi, entah mengapa awan, hujan dan angin masih ingin mengikuti arus mata pena ini. Angin pun tidak tahu kemana pena ini akan ku goreskan, bahkan angin berkata,
”Mungkinkah senja akan tergantikan oleh malam? Atau hujan yang akan menjadi kisah berikutnya?”, dia pun kembali berkata pada sang senja,
“Apakah mentari marah terhadap bumi. Ataukah bumi yang terlalu sensitif? Dan saat sang fajar tak lagi menampakkan batang hidungnya akankah hari itu berganti malam sehingga semua keadaan berubah? Atau mungkinkah hujan dapat memberikan kedamaian?”
Begitu banyak desiran dan bisikan angin yang tersampaikan begitu lirih di telinga mungilku. Pagi ini pun, sang Fajar bercerita kepadaku melalui burung camar yang hinggap di depan kaca ruang kerjaku, begitu menariknya hingga rasaku ingin sekali apa yang dia ceritakan terlukis oleh tanganku dan pena kesayanganku, melukis tetang satu hal...melukiskan bumi. Bumi tempat di mana tiap orang dapat menikmati kehidupan, tempat untuk berpijak, tempat yang penuh dengan kesenangan, sampai semua ada di dalam bumi. Setelah ku dengar kicau burung itu, ku kembali ke tempatku semula dan ku tarik diriku kedalam pekatnya tinta pena dan bertarung dengan goresan tintaku itu tentang bumi yang tak dapat terlukiskan dengan baik. Dia mengatakan bahwa fajar ingin pergi dari senja dan hari. Hanya karena satu alasan...B.U.M.I. Mengapa begitu kebetulan? Disaat aku ingin melukiskan tentang bumi, saat itulah fajar berkata bahwa ingin bersatu dengan bumi. Akh...GILA!!! Entah satu kebetulan atau kesengajaan? Bumi...mengapa engkau memiliki medan magnet yang begitu kuat sehingga kita berfikir bahwa tanpa engkau kami tak dapat hidup??
Waktu terus berjalan ketika aku belum mampu melukiskan atau mendeskripsikan tentang bumi. Bahkan penaku ini tak mampu lagi untuk melukiskan apa yang ada dalam pikiranku. Entah mengapa... Tinta dalam penaku pun bersujud agar dia dapat dipakai untuk melukiskan apa yang aku pikirkan. Tapi, entah mengapa tangan ini terasa kaku dan mati rasa sehingga aku tak mampu melukiskan hal ini...begitu kuatkah porosmu sehingga aku tak mampu menguasai medan magnetmu? Atau sebegitu sempurnakah dirimu sehingga aku tak mampu mengambarkan atau paling tidak mendeskripsikan tentang engkau wahai bumi....Izinkan aku melukismu dalam goresan pena ini dengan segala kekuranganku tentang engkau.
****
Tolong jangan salahkan kupukupu cantik itu
Atau bahkan diri [sendiri] bila
pesta itu tak berjalan lancar
Salahkan saja kurakura itu
yang datang tak diundang (Yogya, 160110).
Tak terasa 2 hari ku habiskan untuk melukiskan tentang bumi, aku menyadari bahwa goresanku tentang bumi tidak begitu sempurna layaknya fajar, hari, awan, angin atau bahkan hujan. Kini biarkanlah, aku beristirahat sejenak di teras rumahku menikmati senja yang sungguh sempurna, yah...ku tutup hari ini dengan melihat betapa indah warna yang diberikan oleh senja. Hari ini senja berwarna begitu indah...merah, putih, dan biru entahlah sepertinya ia ingin menunjukkan yang terbaik untuk terakhir kalinya pada hari dan semua makhluk yang ada di bumi ini atau memang itu bias yang begitu indah, yang terpancar karena senja tlah lama tak tampakkan warna keindahannya? Entah naluri seperti apa yang menjadikan aku tergerak untuk kembali ke meja kerjaku dan kembali menggoreskan tinta yang tak pernah terhentikan.
Ku langkahkan kaki ini menuju meja kerjaku setelah ku nikmati senja yang begitu indah. Hatiku yang menuntunku menggerakkan semua dibawah alam bawah sadarku dan rasa letih yang ku alami. Ku goreskan pena itu dan tertulislah demikian. Kali ini aku melukiskan makna lain dibalik senja hari ini, bahwa ternyata senja hadir dengan warna yang berbeda untuk menunjukkan bahwa ia bermuram durja. Akh...ku dengar kabar dari seekor kura-kura yang datang di sudut meja kerjaku, bahwa hari memalu senja dengan hujaman tombak yang menjadikan ia tak dapat berkata-kata. Tombak yang begitu tajam sehingga warna yang ia torehkan itu berwarna begitu menyakitkan dan memilukan. Tombak yang seharusnya dihujamkan pada hari oleh senja, bukan oleh hari kepada senja. Akh....sungguh gila mengapa hari menghujamkan tombak itu kepada senja yang jelas sungguh tak dapat terpisahkan dari hari? Apakah karena senja bersanding dengan hujan atau angin? TIDAKKKK......tolong hentikan hujaman-hujaman tombak yang ditujukan untuk senja. Dia telah hadir tanpa menghitung berapa lama ia keluar, bahkan senja pun harus sadar bahwa ia harus bebagi pada sang fajar, kini mengapa disaat dia keluar ia masih harus mengalami hujaman tombak itu?
Biar bagaimana pun kura-kura itu datang menceritakan padaku bahwa ia tahu seberapa besar senja mencintai hari. Dan ia tak mungkin terlepas oleh hari, karena besarnya rasa yang ia miliki. Tak diperhitungkan berapa lama ia hadir tetapi bagaimana ia dapat memberikan warna yang terindah untuk penutup hari. Mendengar itu pun, aku merasa begitu terhanyut sehingga mata penaku melukiskan apa yang sedang terjadi antara senja dan hari karena begitu semangat ku lukiskan kisah itu mata penaku pun patah tepat ketika hendak ku lukiskan beberapa bait lagi tentang kehidupan senja dan hari. Kura-kura itu pun berpesan padaku
”Jika sudah kau dapatkan mata pena yang baru, tolong lukiskan bahwa senja pun tak mungkin bersanding dengan udara ataupun hujan”,
Aku pun berjanji pada kura-kura itu, jika sudah ku dapatkan mata pena yang baru aku akan kembali melukiskan apa yang kura-kura itu pinta. Senja...masih kuatkah kau bertahan untuk pancarkan rona warnamu untuk hari? Bertahanlah hingga esok pagi sampai ku temukan mata pena yang pas untuk menggambarkan betapa mulianya engkau hai senja. Ku lihat senja semakin rapuh oleh hujaman tombak itu... Semakin rapuh dan entah kapan senja akan ungkap bahwa warna yang ia beri adalah yang terbaik untuk hari...Tidak untuk insan lain yang mampu menyanding senja hari ini...baik untuk kura-kura, mendung, bumi atau bahkan hujan sekali pun. Karena, senja tau untuk siapa warna terakhirnya dipersembahkan...hanya untuk H.A.R.I tidak untuk siapapun itu. Senja kabarkanlah bahwa sinarmu hanya untuknya...jangan kau pendam warna dan sakitmu seorang diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar